Banyak Yang Hilang Di Negeri Ini

fenomena-negeri-ini
Lain dulu lain sekarang, benarkah harus begitu? Dulu cara anak-anak bersikap memiliki sopan santun, baik kepada mereka yang berusia lebih dewasa apalagi kepada orangtua atau gurunya. Tetapi sekarang saya sendiri merasakan bagaimana anak-anak bersikap bahkan kepada orangtua. Contoh; jika mereka lewat di depan mata saja, sekarang jarang sekali anak yang mengatakan permisi. Padahal kalau dibandingkan soal banyaknya tempat pendidikan antara sekarang dengan jaman dulu, jauh sekali perbedaanya karena sekarang jumlah tempat pendidikan baik milik pemerintah ataupun swasta sangat mudah di cari.
Saat ini hampir di setiap kampung terdapat Sekolah Dasar dan tempat pendidikan keagamaan. Tetapi anehnya semakin banyak tempat pendidikan yang ada, justru tidak semakin menambah generasi negeri ini menjadi lebih baik, misalnya dalam masalah bersikap, sopan satun, cara berpikir dan rasa kebersamaan. Kemajuan jaman dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih malah seolah-olah membentuk karakter yang cenderung lebih mementingkan diri sendiri. Bisa kita saksikan pertempuran tawuran antar sekolah, bagaimana cara berpikir mereka tentang kebersamaan. Bagimana seorang murid yang memanggil nama gurunya tanpa rasa hormat dan sopan santun. Malah sepertinya bangga jika bisa menghina gurunya. Apakah sikap-sikap dan mindset seperti itu yang diajarkan oleh pendidikan modern sekarang ini?
Begitu juga dengan kehidupan orang dewasa, apa yang dilakukan disetiap bidang seolah hanya untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga. Hidup masing-masing tanpa toleransi, tanpa kebersamaan untuk saling bahu membahu. Ibaratnya saja pada saat terjadi kecelakaan, sekalipun banyak yang menyaksikan tetapi lebih banyak yang hanya melihat saja kemudian pergi. “Gak ada hubungannya sama saya ko, bukan keluarga, gak kenal. Lagian apa untungnya nolong dia”. Ketika terjadi sebuah musibah yang dialami orang lain, ko masih sempat yang dipikirkan soal apa untungnya menolong dia. Bagimana jika musibah seperti kecelakaan itu terjadi pada sanak keluarga kita, dan tak ada satupun orang yang mau menolong di sana? Inikah jati diri, cara hidup, dan mindset bangsa di negeri ini sekarang? Dan inikah cara berpikir manusia modern yang lebih berpendidikan, hidup di jaman teknologi canggih?
Gotong royong, tolerasi, sikap tenggang rasa atau tepo sliro sepertinya hanya tinggal sejarah dari bangsa ini, di mana dulu negeri ini dikenal di seluruh penjuru dunia atas keramah tamahan, dan sikap kebersamaan atau gotong rotong bangsanya. Topeng tidak bisa dijadikan untuk menutupi sebuah keburukan, sebab keburukan akan dibayar dengan keburukan juga pada akhirnya. Mungkin inilah fenomena jaman yang memang harus terjadi, banyaknya ruang pendidikan formal atau keagamaan toh ternyata tidak menjamin sikap anak didik sesuai apa yang dituliskan pada buku oleh para pengarangnya. Di jaman ini tugas mendidik dan mengajar mungkin lebih cenderung sebagai sebuah pekerjaan yang sama seperti pekerjaan yang lainnya, yaitu bekerja hanya untuk mendapatkan gaji, tidak seperti dulu para pendidik seperti R.A Kartini atau K.H. Dewantoro, adalah sosok dan figur orang-orang yang mau membagikan ilmunya untuk mendidik dan mencerdaskan anak bangsa agar selain cerdas dan terampil juga memiliki sikap tenggang rasa, peduli, sopan santun dan mau berbagi dengan sesamanya. Semua memang butuh uang, tetapi untuk uang apakah kita harus mengorbankan rasa peduli untuk mereka yang hidupnya sangat membutuhkan uluran tangan sesamanya?
Dulu guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa! Tetapi sekarang berapa banyak guru yang tanpa dibayar mau peduli untuk memberikan ilmunya dan mau mendidik anak-anak yang orang tuanya tidak mampu untuk menyekolahkan mereka. Apakah masih ada di kampung kita anak yang tidak mampu sekolah? Sudahkah kita peduli terhadap pendidikna mereka? Jika tidak, apakah alasanya karena prosedur dan uang? Padahal jika mau bersama kita bisa saling berbagi untuk saling mengulurkan tangan dalam membantu sodara atau teman kita yang membutuhkan bantuan. Berat itu kalau kita melakukannya sendiri. Ya..Uang! Itulah yang selalu menjadi kendala manusia dalam hal menjalin kebersamaan dan kepedulian dalam hidup di jaman modern ini, uang seolah-olah telah menjadi Tuhan kedua setelah Sang Maha Pencipta dan itulah kenyataanya.
Demi uang, demi kepentingan diri sendiri apapun di jaman sekarang ini sepertinya akan dilakukan sekalipun harus menindas, menyakiti, merugikan, dan mengabaikan rasa peduli pada orang lain yang penting keinginan tercapai. Lalu apa bedanya dengan binatang? Bukankah kita adalah manusia yang beda dengan hewan karena manusia mempunyai akal dan pikiran untuk membedakan mana yang salah dan mana yang benar? Sepertinya dan seolah-olah kita akan hidup seribu tahun dan tidak akan meninggalkan dunia modern ini. Untuk apa sebenarnya hidup ini, benarkah uang adalah segalanya? Bagaimana jika esok pagi kita menutup mata selamanya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *