rajakomen

Kontroversi Oxford: Peneliti RI Tak Dicantumkan dalam Temuan Rafflesia hasseltii

1 Des 2025  |  57x | Ditulis oleh : Admin
Kontroversi Oxford: Peneliti RI Tak Dicantumkan dalam Temuan Rafflesia hasseltii

Kontroversi Penemuan Rafflesia hasseltii

Penemuan Rafflesia hasseltii di hutan Sumatera Barat oleh tim University of Oxford memicu kebanggaan sekaligus kontroversi. Pada 19 November 2025, Oxford mengumumkan temuan bunga langka ini melalui media sosial, menyebut hanya nama peneliti dari Oxford. 

Namun, nama peneliti dan konservasionis lokal Indonesia, yang ikut mendampingi ekspedisi, tidak dicantumkan. Padahal mereka memainkan peran vital: menyiapkan akses ke hutan, mengetahui lokasi mekarnya Rafflesia, dan memastikan keselamatan tim saat penelitian di medan sulit. 

Ketiadaan nama ini memicu sorotan publik dan kritik luas, karena dinilai meremehkan kontribusi ilmuwan lokal dalam riset yang dilakukan di wilayah Indonesia sendiri.

Siapa Peneliti Indonesia yang Terlibat?

Beberapa peneliti dan pemandu lokal Indonesia yang ikut serta dalam ekspedisi antara lain:

  1. Joko Witono: Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berperan dalam penelitian lapangan dan dokumentasi ilmiah.
  2. Septi Andriki (Deki): Aktivis konservasi yang berpengalaman menelusuri habitat Rafflesia selama bertahun-tahun, memandu tim Oxford dalam ekspedisi.
  3. Iswandi: Pemandu lokal dari komunitas setempat di Sumatera Barat, membantu akses dan keselamatan tim di medan sulit. 

Tanpa kehadiran mereka, ekspedisi riset Oxford kemungkinan besar tidak akan berjalan lancar atau bahkan gagal menemukan bunga langka tersebut.

Respons Anies Baswedan

Menanggapi kontroversi ini, Anies Baswedan secara terbuka mengkritik Oxford melalui akun media sosialnya. Ia menekankan pentingnya pengakuan terhadap ilmuwan lokal:

“Dear @UniofOxford, peneliti Indonesia kita Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi bukanlah NPC. Sebutkan juga nama mereka.” 

Istilah “NPC” atau Non?Playable Character digunakan Anies untuk menegaskan bahwa para peneliti lokal bukan sekadar pendamping, melainkan kontributor penting yang berhak mendapat pengakuan.

Gelombang Kritik dari Publik dan Netizen

Kritikan terhadap Oxford juga datang dari masyarakat luas dan akademisi. Banyak komentar di media sosial yang menyoroti praktik kolonialisme akademik, di mana institusi Barat mengklaim temuan ilmiah tanpa menghargai kontribusi pihak lokal.

Netizen menekankan bahwa penelitian tidak hanya soal data, tetapi juga konteks lapangan: pengetahuan lokal, pengalaman konservasi, dan akses hutan yang aman adalah kunci keberhasilan ekspedisi. Tanpa pengakuan, kontribusi mereka dianggap diremehkan.

Oxford Akhirnya Memperbaiki

Setelah menerima kritik publik dan sorotan tokoh seperti Anies, Oxford University memperbarui unggahannya. Kini mereka mencantumkan nama-nama peneliti dan konservasionis Indonesia yang terlibat: Joko Witono, Septi Andriki, dan Iswandi.

Unggahan revisi menekankan bahwa temuan Rafflesia hasseltii merupakan hasil kolaborasi tim internasional dan lokal. Foto tim gabungan Oxford dan peneliti lokal kini menjadi bukti pengakuan atas kontribusi mereka.

Pelajaran dari Kontroversi Ini

Kasus ini menekankan beberapa hal penting bagi dunia akademik dan riset internasional:

  • Pengakuan terhadap kontribusi lokal sangat penting. Ilmuwan dan pemandu lokal membawa pengalaman, pengetahuan lapangan, dan akses unik.
  • Kolaborasi internasional harus adil dan transparan. Setiap pihak berhak mendapat kredit sesuai kontribusi.
  • Etika ilmiah melawan kolonialisme akademik. Praktik penghapusan nama peneliti lokal memperkuat dominasi institusi Barat dalam narasi sains global.

Suara publik dan tokoh nasional berperan penting. Tekanan publik dan kritik tokoh seperti Anies Baswedan mendorong perbaikan dan transparansi.

Kesimpulan

Kehilangan nama peneliti Indonesia dalam penemuan Rafflesia hasseltii sempat menimbulkan kontroversi, tetapi akhirnya diakui oleh Oxford University. Kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap penelitian internasional harus menghargai kontribusi semua pihak, terutama ilmuwan lokal, demi keadilan akademik, etika ilmiah, dan pengakuan yang setara.

Baca Juga: